*

Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

September 07, 2010, 12:36:40 PM

Login with username, password and session length
Members
Stats
  • Total Posts: 2740
  • Total Topics: 416
  • Online Today: 24
  • Online Ever: 265
  • (March 02, 2010, 06:26:13 PM)
Users Online

SiteMap

Page Rank

Alexa

Online Clock

Powered
Powered by  MyPagerank.Net
SEO Monitor



Visitor
Counter Powered by  RedCounter

Increase your PageRank

free counters

Sponsored

Academic,  Learning & Educational Blogs - BlogCatalog Blog Directory

Pages: [1]   Go Down
Print
Author Topic: STUDY WISATA  (Read 256 times)
STAFF
Wakasek Kurikulum
Sr. Member
*****
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 308


View Profile Email
« on: June 30, 2010, 11:14:28 AM »

STUDY WISATA KELAS XI TAHUN 2010

STUDY WISATA KELAS XI TAHUN 2010




Salah satu cara untuk meningkatkan dan mengembangkan Kompetensi Peserta Didik   mencapai Kemampuan secara aktif  berdasarkan hasil observasi  dari pengalaman langsung dilapangan ,  serta meningkatkan ketrampilan untuk  mengkomunikasikan hasil pengalaman tersebut dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah , Kegiatan Study Wisata SMA Negeri 1 Sumedang tahun 2010 . Adapun kegiatan Study Wisata ini akan dilaksanakan pada :

Pelaksanaan      :   29 Juni  2010 s.d.  1 Juli  2010
Waktu Berangkat     :   Tgl. 29 juni 2010 Pkl :16.00 WIB
                                ( dari SMA Negeri 1 Sumedang )
Waktu Pulang      Tgl. 2 Juli 2010 Pkl : 06.00 ( WIB )
                                ( di SMA Negeri 1 Sumedang )
Kelas / Program     :   XI / IPA ( Reguler, SI , CIBI ) dan IPS
Jumlah Peserta     :   402 ( L =150, P = 252)
Jumlah Pembimbing :   24 guru
      
Lokasi              :   Dieng dan Yogyakarta
Jumlah BUS             :   9 BUS ( menggunakan Travel Perintis – Sumedang)
« Last Edit: June 30, 2010, 12:14:28 PM by STAFF » Logged
STAFF
Wakasek Kurikulum
Sr. Member
*****
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 308


View Profile Email
« Reply #1 on: June 30, 2010, 11:39:26 AM »

TUJUAN STUDY WISATA DIENG DAN JOGYAKARTA



Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.





Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.




Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.





Berikut adalah kawah-kawah di DTD:

    * Candradimuka
    * Sibanteng
    * Siglagah
    * Sikendang, berpotensi gas beracun
    * Sikidang
    * Sileri
    * Sinila, berpotensi gas beracun
    * Timbang, berpotensi gas beracun

Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009 (15/1)[1], menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu.

Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas.

Kawah Sileri

Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter

Kawah Sinila

Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979,tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

Puncak-puncak

    * Gunung Prahu (2.565 m)
    * Gunung Pakuwaja (2.395 m)
    * Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan

Danau vulkanik

    * Telaga Warna, obyek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya
    * Telaga Cebon, dekat desa wisata Sembungan
    * Telaga Merdada
    * Telaga Pengilon
    * Telaga Dringo
    * Telaga Nila

Beberapa peninggalan budaya dan alam telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng.

    * Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, Telaga Merdada.
    * Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.
    * Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.
    * Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.
    * Sumur Jalatunda.
    * Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
    * Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.
    * Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).
« Last Edit: June 30, 2010, 11:52:05 AM by STAFF » Logged
STAFF
Wakasek Kurikulum
Sr. Member
*****
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 308


View Profile Email
« Reply #2 on: June 30, 2010, 12:02:22 PM »

TUJUAN STUDY WISATA PARANGTRITIS





Parangtritis, adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai pesisir Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta.Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup Krakal dan Pantai Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung - gunung pasir yang tinngi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk.



Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. lokasi lain adalah pantai parang kusumo dimana di pantai tersebut terdapat tempat konon untuk pertemuan antara raja jogjakarta dengan ratu laut selatan. Pada hari-hari tertentu (biasa bulan suro) di sini dilakukan persembahan sesajian (Labuhan) bagi Ratu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa disebut Nyai Rara Kidul. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 muharram/Suro).





Di Parangtritis ada juga kereta kuda atau kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.
Logged
STAFF
Wakasek Kurikulum
Sr. Member
*****
Offline Offline

Gender: Male
Posts: 308


View Profile Email
« Reply #3 on: June 30, 2010, 12:07:30 PM »

TUJUAN STUDY WISATA JOGYAKARTA


Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta) dan seringkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah

Provinsi DI. Yogyakarta memiliki lembaga pengawasan pelayanan umum bernama Ombudsman Daerah Yogyakarta yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur DIY. Sri Sultan HB X pada tahun 2004

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.
Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945  . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Nederland Indische setelah kekalahan Jepang.
Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Yogyakarta meliputi:
1.   Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
2.   Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
3.   Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
4.   Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
5.   Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.
Sedangkan kekuasaan Praja Paku Alaman meliputi:
1.   Kabupaten Kota Paku Alaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
2.   Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.
Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945  yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.
Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.
Logged
Pages: [1]   Go Up
Print
Jump to:  

TinyPortal v.1.0.6 beta 2 © Bloc